Banyak sekali Instrument Investasi dengan reward dan resiko yang berbeda-beda. Berbicara tentang resiko misalnya menyimpan uang kita sendiri di brankas dirumah mungkin resikonya 0% akan tetapi tentu saja rewardnya 0% juga. Tapi bagaimana jika tanpa kita inginkan kunci brankasnya termasuk duplikatnya hilang. Dengan segala usaha bisa saja brankas tersebut dibuka tetapi tentu dengan pengorbanan baik tenaga (pasti ada) pikiran (pasti ada) ataupun biaya (jika ada karena ada fihak yang berbaik hati untuk membantu membongkarnya). Pengorbanan tersebut adalah resiko dan rewardnya tetap 0%. Resiko lain dengan menyimpan uang dirumah adalah tentunya kemungkinan dicuri dan yang terakhir adalhal resiko inflasi dimana uang kita bertambah lama akan bertambah kecil nilainya dan pada suatu waktu nilainya juga akan menjadi 0 sama dengan kasus saham INCO yang Abas ceriterakan. (jika uang kita disimpan dirumah dengan tingkat inflasi 10% per tahun misalnya berapa nilai uang kita pada 15 tahun mendatang pada wakrtu si kecil mau masuk perguuan tinggi/)
Menurut ER tidak ada satupun didunia ini instrument investasi yang aman dengan tingkat resiko 0. Tugas kita adalah bagaimana meminimalkan resiko dari setiap investasi dimana kita terjun kedalamnya. Sebelumnya ER ingin sampaikan prinsip utama terlebih dahulu. Apapun pekerjaan kita atau usaha kita, jika kita ingin memikirkan masa depan, maka “menyisihkan sebagian (terserah mau 1%, 2% atau 25%)” dari penghasilkan kita untuk tabungan masa depan merupakan hal yang mutlak dilakukan. Tidak ada alasan satupun untuk tidak melakukannya termasuk alasan “untuk makan sehari-haripun nggak cukup mana bisa menabung”�
(ER ingin menceriterakan pengalaman ER. Bukan untuk diikuti akan tetapi hanya sebagai pembanding saja karena apa yg ER merasa benar ER lakukan belum tentu orang lain membenarkannya. Terlepas pro dan kontra tabungan asuransi, semenjak anak-anak ER masih bayi semuanya ER masukan program Asuransi Beasiswa yang pembayaran preminya ER sisihkan dari gaji ER dengan memperhitungkan kemungkinan bahwa anak-anak ER akan masuk sekolah swasta yang biaya  uang pangkalnya lebih tinggi dari sekolah atau perguruan tinggi negeri. Alhamdulillah hasil tabungan asuransi beasiswa ER dapat mebiayai uang pangkal semua anak ER mulai mereka masuk SMP, SMU maupun perguruan tinggi. Dan Alhamdulillah pula karena mereka masuk peruguruan tinggi negeri uang pangkalnya kecil sekali sehingga sisa hasil tabungan asuransi beasiswa tersebut dapat dipakai untuk keperluan-keperluan sekolahnya yang lain)
Berikut ini beberapa cara yang ER ingat beberapa instrumen investasi termasuk yang diluar pasar modal yang bisa kita lakukan dari hasil sedikit demi sedikit tabungan kita atau dana lain yang berhasil kita sisihkan dari keperluan sehari-hari.. Tentu masih banyak cara-cara yang lain.
· Do nothing investment dengan menyimpan uang dirumah. Sangat likwid Resiko telah disebutkan diatas. Resiko lain adalah jika tidak disiplin karena uangnya berada didepan mata bisa saja tergoda untuk terpakai keperluan-keperluan yang sifatnya konsumtif
· Dismpan di rekening tabungan dengan tingkat resiko yang rendah selama ada jaminan dari pemerintah. Sangat likwid akan tetapi faktor inflasi bisa menggerus nilai uang kita
· Deposito. Sifat sama dengan tabungan dengan tingkat likwiditas yang lebih rendah karena masalah-masalah birokrasi adiministrasi deposito. Inflasi juga bisa menggerus nilai uang yang kita simpan.
· Disimpan dalam bentuk perhiasan baik emas maupun logam mulia lainnya. Resiko adalah naik turunnya harga logam mulia dan jika disimpan dirumah ada resiko pencurian. Less likwid. Pengalaman ER jika ada uang, gram demi gram menabung dengan membeli instrument ini harganya dalam jangka panjang meningkat terus. Kita tinggal membandingkan tingkat inflasii dengan pertumbuhan harga logam mulia ini. ER sekarang ini punya cara. Hadiah Ultah cucu ER selalu ER berikan berupa emas (meskipun hanya 1 atau 2 gram) serta Reksadana Murah (yang menambah dananya bisa dengan cara menabung Rp250.000 kapan saja kita punya uang) dengan pesan kepada anak atau menantu saya bahwa kado saya tersebut jangan disentuh-sentuh sampai si cucu masuk perguruan tinggi. Saat ini sedang difikirkan kadonya berupa saham, apalagi jika harga saham perusahaan bagus sudah murah maka ER akan belikan 1 lot saham INCO, PTBA atau ASII misalnya dan suruh disimpan sampai cucu saya tersebut masuk perguruan tuinggi (Jika YMK mengijinkan). Tapi yang jelas meskipun murah tidak akan saya memberikan kado untuk cucu saya saham POLY atau BTEK.
· Jika tabungan kita telah terkumpul bisa dibelikan tanah dengan catatan sifatnya sangat tidaki likwid karena sukar dijual. Dalam jangka panjang harganya naik terus. Dulu paman saya bilang kalau  beli rumah maka rumahnya bisa kebakaran dan hal tersebut tidak mungkin terjadi jika disimpan dalam bentuk tanah. Resikonya jika tidak dijaga bisa diserobot orang yang tidak bertanggung jawab. Kita harus memperhitungkan juga tingkat pengembalian harga jangka panjang dengan tingkat inflasi plus PBB atau biaya-biaya lain yang kita keluarkan untuk menyimpan tanah tersebut.
· Bagi yang uang tabungannya sudah terkumpul bisa dibelikan sepeda motor atau Bajaj. Cari pengemudi untu dijadikan ojeg dan mengoperasikan Bajaj. Jangan lupa mengasuransikan speda motor dan ojegnya untuk menghindarkan resiko kehilangan dan kecelakaan. Bandingkan hasilna dengan tingkat inflasi. Resiko yang harus difikirkan juga tentunya adalah pengemudinya (nakal atau tidak).
· Bagi yang uang tabungannya sudah berlipat banyak sekali beli rumah atau apartemen. Jika lokasinya bagus bisa disewakan atau dikontrakan. Harus diperhitungkan benar hasil sewa dengan tingkat inflasi dan biaya pemeliharaan rumah/apartemen karena sifat rumah yang bertambah lama bertambah lapuk (tanahnya tentunya tidak)
· Tabungannya diinvestasikan dalam bentuk edukasi untuk meningkatkan ilmu, kemampuan dan keterampilan serta menjaga kesehatan kita yang bisa kita pakai mencari penghasilan setelah usia kita tua atau kita memasuki usaha pensiuan (guru, konsultan, penasihat, menulis buku tidak mengenal usia tua)
· Menginvestasikan hasil tabungan kita di instrument instrument yang lebih beresiko di financial market seperti pasar ang, obligasi, reksadana (tetap campuran, saham ) reksadana swakelola denga tingkat risk dan reward yang telah dipelajari di pelatihan-pelatihan J-Club
· Untuk menambah wawasan coba belajar dari Guru-guru Besar sperti Robert Kyosaki misalnya yang karngan-karangannya tersebar luas di toko-toko buku dan telah diterjemahkan kepada Bahasa Indonesia. Dari buku-buku tersebut kita dapat belajar banyak bagaimana kita menyiapkan masa depan kita.
Semua yang ER sampaikan diatas hanyalah apa yang ada dalam benak ER. ER kira masih banyak cara lain yang dapat dilaksanakan dan mudah-mudahan para anggota lain dapat memberikan saran atau kontribusinya.
Saran: Apapun instrument investasi yang kita masuki, pelajari resiko-resikonya dengan sekasama. Lupakan dulu hasilnya sebelum mempelajari resiko. Hasil akan mengalir setelah resikonya berhasil kita minimalkan.

No comments:
Post a Comment